Suara Millennials dan Gen Z Indonesia.

Mawar itu Masih Tersimpan

On 11/06/2016 with No comments

Bunga Mawar
Karena pelangi itu takkan muncul lagi tanpa hujan yang lebih dulu datang...
             
Waktu itu, aku masih ingat dengan jelas di cafe yang biasa aku datangi. Dengan berteman sebuah buku yang cukup tebal hingga mungkin butuh waktu satu atau dua minggu menyelesaikannya. Lebih tepatnya novel cinta. Dengan begitu banyaknya judul disetiap penerbitannya.

Segelas cappucino dingin yang sudah hampir habis setia menemaniku setiap sore menjelang malam. Duduk disudut cafe yang menghadap langsung bagian bar di cafe yang berkonsep indoor itu, dan lantas saja karena sudah cukup seringnya aku mengunjungi cafe itu, seolah kursi tersebut selalu kosong dan menunggu untuk aku duduki.


Ketika aku ingin menghabiskan minuman dingin itu aku menyadari ternyata novel yang seharusnya sudah selesai aku baca, ternyata masih tersisa dua part lagi. Padahal novel itu harus segera aku kembalikan pada Rhia, sahabatku, dan dimana juga hari itu aku sudah harus mengembalikannya.

Tanpa berfikir panjang lalu aku memesan lagi segelas cappucino dingin kepada salah satu waiter, yang kelihatannya saat itu sangat sibuk sekali menghandle pelanggan lain yang juga ingin memesan.
               
“permisi, mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Aku mendengar suara yang aku sendiri kaget bahwa pemilik suara tersebut adalah salah satu bartender yang ada di cafe tersebut. Karena sudah terlalu sering aku menghabiskan waktu ditempat itu, sampai pekerja-pekerja cafe tersebut mengenalku dengan sangat baik. Karena ia melihatku kebingungan pada siapa harus memesan minuman, akhirnya ia menghampiriku.
                “eh-mmm mas, kaget saya, saya pikir siapa, ternyata mas...”

“ Ini mas saya mau pesan satu lagi cappucino dinginnya ya”. Bartender itu senyum dengan sangat manis melihat kekagetanku karena kehadirannya.
               
                “pesan lagi, mbak? Biasa juga sekali pesan aja”, balasnya.
               
“iya nih mas, seharusnya memang Cuma sekali aja. Tapi karena ini belum selesai dan harus segera dikembalikan, jadi saya pesan lagi deh mas”, jawabku dengan menunjuk kearah novel yang kumaksud. Bartender yang berdiri tepat di samping aku duduk kini mulai mengerti kenapa aku memesan lagi segelas minuman itu.
               
“ohh begitu. Ya sudah saya buatkan sebentar ya”. Sambil mulai berlalu dengan menyisakan senyumannya yang membuatku salah tingkah, ia berkata lagi sambil memperkenalkan dirinya dan mengarahkan tangan kanannya untuk berjabat tangan denganku, “oh ya, saya Arman. Jika ada butuh apa-apa, bilang sama saya aja ya”. Dan lagi-lagi Arman memberikan senyuman manisnya kepadaku yang semakin membuatku terpaku setelah bersalaman padanya hingga ia pun berlalu untuk bergegas membuatkan pesananku.
               
                Hingga akhirnya dengan sekali sedotan terakhir minuman yang hampir tak lagi dingin itu, begitu juga novel itupun selesai aku baca. Sudah tujuh hari aku menyelesaikan membacanya, di tempat ini, dengan minuman yang selalu sama aku pesan.
“mbak belum pulang? Arman menghampiriku masih duduk di sudut ruangan dengan ia yang tak lagi mengenakan seragam kerjanya.
               
“ini baru siap-siap mau pulang. Baru selesai dibaca”. Sambil berdiri dan berbarengan dengan Arman keluar dari cafe itu yang ternyata ia juga akan pulang. “panggil Sinta aja, berasa tua akunya kamu panggil mbak”. Tawa ringanku hingga memecah senyum Arman dengan pernyataanku yang juga sedikit lucu menurutnya.
               
“kamu sering juga ya ke cafe ini, bahkan aku juga sering buatin minuman yang selalu sama kamu pesan. Makanya tadi aku lihat kamu kebingungan karena gak ada satu waiter pun yang menghampiri kamu”, ucap Arman yang memulai pembicaraan menjadi lebih santai di samping pintu masuk cafe itu. “gak bagus buat kesehatan menurut aku kalau kamu terlalu sering minum itu. Lebih bagus kamu minum air putih atau jus, lebih sehat lagi”.
               
Arman membuatku terpaku lagi, namun aku langsung membalasnya dengan memberikan sedikit guyonan, “jus ya? Hmm... enak juga, apalagi kalau kamu yang buat ya, pasti aku bakalan pesan sampai tiga kali,”  balasku yang kini membuat Arman tertawa hingga matanya sedikit menyipit akibat guyonan yang kubuat.
               
“terima kasih hari ini ya, Arman. Senang kenal sama kamu. Aku harus pulang sekarang”, Tutupku malam itu dan berlalu dari Arman yang masih berdiri disamping cafe sampai bayanganku yang tak terlihat lagi. Arman seperti pelangi. Yang dimana aku tak berharap muncul, namun kehadirannya membuatku jadi berwarna.

                Namun begitupun pelangi muncul, ia tak pernah lama mewarnai langit biru...

Waktu semakin cepat berlalu. Tak terasa perjumpaanku dengan Arman waktu itu sampai detik ini sudah sangat banyak menyisakan hal-hal menarik dan tentunya indah. Arman sangat istimewa. Aku belum pernah menjumpai sosok seperti dia. Hampir setiap hari kami selalu berkomunikasi. Karena pertemuan waktu itu di cafe,  kami menjadi lebih sering bercengkrama dan tentunya kehadiranku di tempat itu menjadi lebih sering lagi.

 Bahkan aku seperti sedang bekerja ditempat itu. Mulai dari bukanya cafe itu hingga Arman selesai bekerja, aku selalu hadir. Kini tempat yang biasa aku tempati seakan cemburu karena tak pernah lagi aku duduki. Aku jadi lebih sering duduk di kursi yang bisa melihat langsung Arman meracik minuman.
Apalagi Arman suka sekali membuatkan aku minuman yang menurutku aneh karena hasil eksperimennya sendiri, namun rasanya tidak buruk. Selesai Arman bekerja, kami sering duduk walau hanya sekedar bercerita. Atau terkadang kami juga menonton film di bioskop. Dan setelahnya bisa saja makan. Selebihnya, kami juga sering menghabiskan sisa-sisa waktu yang ada sambil teleponan. Entah apa yang kami bicarakan tapi saat-saat itu sangat indah. Arman bukan hanya sekedar pelangi yang hanya sekejap muncul mewarnai langit biru, Arman lebih dari itu.
               
Hingga hari ini, aku mengatakan cintaku pada Arman. Dan tebak saja, Arman terkejut mendengar pernyataanku.
               
“apa yang kamu lihat dari aku? Sampai kamu menyatakan hal seperti itu dimana kita baru beberapa bulan saling kenal”, ucap Arman yang malah bertanya balik padaku dan sangat membuatku terpaku.

Aku menjelaskannya. Semuanya. Mengapa bisa secepat itu aku jatuh cinta padanya dimana baru beberapa bulan kami saling kenal. Namun aku merasa kami sudah sangat cocok. Ungkapan yang kuutarakan padanya sedikit membuat wajah Arman berubah drastis. Entah apa yang salah saat aku mengungkapkannya. Tapi Arman sudah cukup membuatku menyesali apa yang kuutarakan padanya.

Aku memilih diam dan meninggalkan dirinya yang saat itu masih belum mengatakan apapun. Meninggalkan Arman yang masih duduk di tempat ia bekerja malam hari setelah cafe itu mulai bersih-bersih karena akan tutup.

                Malam ini dingin sekali. Hujan yang turun dari sore tadi tak kunjung berhenti sampai jam 9 malam ini. Membuatku hanya bisa membungkus diri dibalik selimut tebal yang jarang kupakai setiap tidur malam. Namun karena cuaca yang tak kusuka ini, kini aku harus memakainya.

Memandang kearah luar yang menghadap ke langit-langit yang tak berbintang malam ini. Jendela yang telah basah karena hujan terus membasahinya. Sesekali aku juga melirik kearah telepon genggamku, yang juga sedari kemarin tak ada berbunyi panggilan masuk, sms, bahkan pesan blackberry messenger dari Arman.

Kuhitung sudah lebih 24 jam Arman tak ada walau hanya sekedar menanyakan apa yang sedang kulakukan. Kejadian 2 malam lalu cukup sulit buatku dan paling sulit buat Arman. Terakhir aku meninggalkan Arman dengan raut muka yang datar tak merespon sedikitpun pernyataan sukaku padanya.

 Apa yang salah dengan ini? Aku hanya berbuat hal yang benar aku rasakan, apakah itu salah?
               
“Sinta.. Kamu lagi apa?”
               
Pesan dari blackberry messenger pun berbunyi dan sontak membuatku buru-buru membacanya dan Arman menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Tapi bukannya malah membalas, aku malah menghubungi Arman.
               
“maaf aku udah buat kamu kebingungan. Tapi aku lagi pengen sendiri aja, sedang tidak ingin diganggu. Sekali lagi aku minta maaf..”
               

Maaf yang kudengar dari Arman sedikit tak bisa kuterima dengan akal sehatku. Tapi hanya kutelan saja permintaan maafnya dan mendengarkan kembali yang ingin dikatakannya lagi.
               
“besok malam aku tunggu di cafe ya. Ada sesuatu yang mau aku kasi ke kamu..”

                Dan dilain kesempatan, semoga hujan turun agar dapat melihat pelangi lagi..
               
Aku menghela napas panjang sekali pagi ini. Melepaskan segala yang tengah aku rasakan. Tak cukup lama tadi malam aku berkomunikasi dengan Arman. Tak seperti biasanya yang sampai larut malam. Baik aku ataupun Arman, tak membuat perbincangan itu menjadi panjang. Sehingga tak butuh waktu lama untuk mengobrol. Sangat tak bersemangat, ya itulah yang kurasakan.

Namun permintaan untuk menemuinya nanti malam di cafe tempat ia bekerja menyisakan pertanyaan tak enak dan kecurigaan yang aku harap tak akan pernah terjadi. Arman, kau membuatku gila!
               
Sedari siang aku sudah duduk manis ditempat biasa kala aku membaca buku di cafe ini, yang belakangan sangat jarang aku berada di spot favoritku ini. Namun yang berbeda kali ini adalah hanya orange juice yang kupesan, bukannya cappuccino dingin. Novel cinta yang biasa aku baca, kini majalah tentang kesehatan yang setia menemani siangku. Dan entah kenapa semua kebiasaanku yang dulu telah berubah drastis dan jika teman-temanku tau yang kulakukan, mereka akan mengatakan ‘not you’. Tapi aku sangat menikmatinya.

Dengan musik dicafe itu salah satu band asal jepang kesukaan Arman One Ok Rock, yang pertama aku dengar sama sekali tak menyukainya karena aliran lagu seperti itu sangat tak kusuka. Namun lama kelamaan karena Arman selalu minta lagu itu diputarkan saat jam kerjanya, aku jadi terbiasa mendengarkannya. Dan tanpa sadar tubuhku pun seirama bergerak mengikuti alunan musiknya.
               
Tak terasa sudah menjelang sore aku berada disini dan perutku sudah melolong minta diisi. Dan aku minta waiter untuk membuatkan roti panggang coklat keju yang sangat lezat di cafe ini. Tapi tiba-tiba aku teringat akan perkataan Arman beberapa waktu lalu saat ia mengajakku untuk makan siang.
               
“aku masih kenyang, Arman. Kamu jangan paksa aku dong. Lagian kamu ini merusak dietku aja..” tukasku waktu itu dengan wajah sebal karena Arman memaksaku untuk makan siang yang padahal sebenarnya dari pagi sampai habis jam makan siang, aku belum ada makan apa-apa, dan Arman tau itu.

Seolah kami telah tinggal satu rumah. Karena aku tak pernah bisa menyembunyikan apa yang kukerjakan, jadi aku memberitahukannya sampai diet yang kulakukan dimana memang dari pagi hanya minum segelas air putih dan roti tawar yang hanya 2 lembar. Dan lalu Arman menunjukkan wajah tak sukanya yang jarang sekali ia tunjukkan padaku karena ia sangat tak suka aku melakukan diet gila itu, “aku gag suka kamu ngelakuin diet itu.

Buat apa?? Yang ada kamu malah sakit dan gag sehat. Aku terima kamu apa adanya kok, mau kamu kurus atau lebih dari sekarang..” Arman sangat kesal hingga raut wajahnya melukiskan ketidaksukaannya atas perbuatanku.

Tapi Arman tetaplah Arman. Mau seperti apapun marahnya dia terhadapku, namun ketahuilah, Arman tak sesungguhnya benar-benar marah. Akhirnya ia memesankanku seporsi nasi merah lengkap dengan sayuran dan orak-arik telur dan condiment lainnya cocok untuk yang melakukan diet sepertiku dan tentunya sehat. Dan seketika senyum merekah diwajah Arman dan tak ketinggalan gigi kelincinya yang membuatku semakin gemas. Karena teringat itu, akhirnya aku mengganti pesanan yang sebelumnya dengan makanan lain yang mengandung karbohidrat.
               
Sudah hampir pukul 8 malam, tetapi batang hidung Arman belum juga kelihatan. Padahal seharusnya jadwal ia bekerja. Aku bertanya dengan pekerja disini, tetapi mereka hanya menggelengkan kepala sambil mengatakan “tidak tau”. Aneh. Kemana Arman??

                “mbak Sinta,” seorang bartender menghampiriku sambil membawa sekotak besar berukuran 30x24 cm berwarna biru muda polos. “mohon diterima, mbak. Dari seseorang yang mbak kenal..” Terheran-heran tapi aku tetap menerima sekotak besar yang entah apa isi didalamnya. (TR)

Aku, Kau, Mereka dan Facebook

On 11/06/2016 with No comments

asik dengan facebook
Empat tahun, sudah berjalan Rizky berdomisili di kota Blin-blan di provinisi entah berantah (bukan anta berantah). Tahun pertama di lalui di kota tersebut, ia merasa seperti tersesat di hutan rimba, yang harus meraba dan nyasar ke sana- sini.

Dalam hati ia berkata, sampai kapan bertahan di kota entah berantah itu. Rasa sepi, terus di lalui sampai teringat kebiasan lama ia bermain MIRC, dan Friendster. Dengan Blackberry (BB) di tangan, ia pun langsung membuka Facebook, maklum di BB aplikasi MIRC dan Friendster tidak bisa di buka. 
Satu persatu status di bukanya, masih tetap seperti di dunia nyata. Di sana (FB), status-statusnya ada yang memposting, makian, rasa cinta dan lainnya. Selain itu, beberapa postingan porno juga ada di sana, tanpa sensor atau lainya.

"Ah sama saja membosankan, tak ada yang menarik," gerutunya dalam hati.

Tahun terus berganti, perkembangan dunia maya berkembang dengan begitu pesat terutama di Facebook yang diciptakan oleh Zuckerberg pada 4 Februari 2004. Bahkan tweeter, path, instagram terbilang masih belum bisa menggoyahkan facebook. Saat ini, Facebook sudah seperti dunia nyata, apalagi dibarengi dengan teknologi handphone berbasis android atau semacamnya.

Rasa bosan terus, muncul dalam hati Rizky, ia pun berjalan ke belbagai tempat tongkrongan yang ada di kota itu. Masih tentang Facebook yang menjadi viral terus merambat ke berbagai sisi.

Sesampainya di tempat togkrongan, ia bertemu dengan teman-temannya. Bukannya senang, ia malah jengkel karena satu jam pertemuan dengan teman-teman barunya di satu tempat tongkrongan, mereka tampak asik dengan android. Karena bosan dengan pertemuan itu, rasa iseng pun muncul, dilihatnya lah satu persatu android mereka dan benar saja teman-temannya sedang asik bermain facebook. Bukannya membalas status teman lainnya, mereka rupanya saling berbalas komentar foto yang mereka upload di facebook.

"Ajab, yang main facebook nya mereka," gerutunya.

"Ngapain lah kita ngumpul di sini, kalau cuman balas-balas komentar bagus di rumah masing-masing," ucapnya kesal kepada teman-temannya. 

“Sudah santai saja, di sini saja kita dulu,” ucap Endra teman

Setelah dua jam berkumpul, ia pun permisi untuk pulang. Sedang teman-teman dia, masih asik berbalas status.

Ia pun sebanarnya, sudah terjangkit virus Facebook. Kembali dibukanya Facebook nya, kembali di kota Blin-blan ada fenomena lain, masing-masing individu tampak sibuk membuat group. Tidak hanya, group bahkan di facebook tersebut, sudah ada yang mengaku Walikota dan Gubernur. 

"Adeh, Ada-ada saja lah uwak-uwak ini," ucapnya sambil geleng-geleng kepala

Selang seminggu, ia pun kembali berkumpul bersama teman-temanya. Dalam pertemuan itu, memang teman-temannya tidak membuka facebook, dan lebih membahas membuat group dan tunjuk menunjuk admint. 
Semula berjalan, lancar-lancar saja, apalagi group yang diciptakan mereka kebanyakan berjiwa sosial. Tapi lama kelamaan aneh, masing-masing dari temanya ribut tidak jelas dengan alasan yang juga tak jelas dan sampai saat ini pertemanan mereka renggang. 

Entahlah siapa yang salah diantara mereka. Tapi yang jelas salah aku, karena bertemu mantan dari facebook baru ku, seperti lagu Gigi.

Antara Persahabatan dan keegoaan

Rasa kesal, masih juga belum bisa hilang. Dalam hati Rizki terus bertanya, apakah seperti ini sahabat, di depan belagak malaikat, di belakang menjadi setan.

Degan rasa kesal, tersebut membuat ia tak sadar melontarkan makian terhadap sahabatnya saat menaiki angkot. Meski dengan suara kecil dan halus, makian tersebut terdengar jelas oleh penumpang lainnya yang duduk di depan Rizki. 

Sorot Mata keheranan dari penumpang terus, seakan menelanjanginya. Untung lah, tak berselang lama ia langsung berhenti karena angkot tujuanya sudah berada di depan kampusnya.

"Pinggir, pinggir bang," teriaknya dari dalam angkot.

Dengan kaki yang lebar, ia langsung melangkah seakan ingin hilang dari rasa malunya dalam angkot tadi. 

"Woi, cepat kali lagkah kaki mu. Mau boker atau lagi di kejar setan," ucap Dohin, membuka percakapan dengan Rizki. 

"Eh, hin, ngk ada pingin cepat aja," jawab Rizki. 

"Oh ya, kalian kenapa, kok maki-makian di facebook, udah lah buat malu saja," ucap rizki.

"Ngak ada apa-apa kok, aku heran kenapa mereka, kayak tak mau melihat kami maju," ucap Dohin.
Perbincangan panjang pun terjadi, antara keduanya. Ya, untung saja, jam masuk kelas masih sekitar dua jam lagi. 

Rizki, sendiri awalnya marah kepada teman-temannya yang baru di kenalnya satu tahun belakangan di kota Blin-blan di provinisi entah berantah (bukan anta berantah). Apalagi, saat itu ia hanya menilai keributan yang terjadi antara mereka hanya permasalahan kecil, miskomunikasi di Facebook.

Ia pun mencoba, menjadi penengah kepada teman-temannya, sampai akhirnya ia pun kesal terhadap dua kelompok temannya yang terpecah. 

Apalagi, kedua kelompok temannya tersebut, seakan tidak mau mengalah. Karena yang terjadi antara persahabatan dan keegoaan. 

Tak terasa sankin asiknya keduanya berbincang, Rizki pun harus masuk ke kelas untuk mulai perkuliahan mata kuliah perkembangan peserta didik. 

Sesuai kuliah, siang itu ia mencoba menghubungi, Endra sahabat lainnya yang terlibat konfilik dengan Dohin. Kembali, si Endra bercerita banyak, dan menyatakan dirinya tidak ada masalah, namun kelompok Dohin yang menyalah. 

"Heran kali lah, sama mereka, Masaan tak mau melihat kami maju," ucapnya sama seperti yang di sampaikan Dohin.

"Orang itu lucu, Masaan awak tak mau bersinergi mereka marah," oceh Endra.
Mendengar ocehan, si Endra membuatnya tersenyum dan sakit kepala. Rokok yang berada di tanganya langsung dihisapnya. 

"Mau kali orang itu (Rohin cs), di akal-akalin Toyep," ucapnya.

"Kalau aku mana mau, kalau mau bersinergi yang jelas lah. Masaan seperti, di kasih dana dari Donatur untuk kegiatan tapi tak mau ngasih tahu berapa," ucapnya.

Satu lagi, si Lio (teman rohim lainnya), menurut Endra tak habis pikir dengan sikapnya. Endra menilai, Lio seakan mengambil keuntungan, dari sakitnya adik si Lio di rumah sakit.

"Si Lio itu, adiknya sakit, eh datang kemarin mau buat among-among untuk sinergi group FB, karena masih ada sisa uang yang diberi teman-temannya dari adiknya yang di rawat di rumah sakit," ucap Endra lagi

Ia pertentangan mereka, sepanjang pengetahuan Rizky berawal saat membuat Group di Facebook. Saat itu, Endra, Dohin, dan lain-lainnya membuat group bernama Rakyat suara Blin-blan. Sampai akhirnya datang Toyip, untuk membuat group kumpulan Blin-blan.

Saat itu, Dohin, Toyip, Lio bergabung menjadi satu paket. Sedangkan Endra, Taufan dan Arifin temannya yang lainnya bertahan dengan group mereka.


Masih, Aku, Kau, Mereka, dia dan facebook

Pagi itu, Rizky bangun dengan semangat 45, ia mandi lalu berpakaian kebangsaannya celana jeans dan kaos oblong. Hari ini Rizky memang tidak kuliah karena sedang libur semester. 

Tiba-tiba, suara HP nya berbunyi, memang bukan suara panggillan telepon atau pun bunyi sms, melainkan bunyi update status di facebook nya. Satu persatu status di bacanya dan dari sekian bayak status, ia terkejut membaca update status temannya. 

Dalam status temannya tersebut, mempertanyakan kegiatan teman lainnya yang membersihkan masjid setiap jumat, meski di Masjid tersebut mempunyai BKM dan katannya mempunyai saldo sampai ratusan juta.

"Apalagi lah, status si laktiung ini, semua ondak diurusnya," ucap Rizky dengan nada heran. 
Apalagi menurut temannya tersebut, status tersebut ingin membuka wawasan bagi teman-temannya yang membersihkan masjid tersebut.

Ya Masjid secara fisik merupakan bangunan biasa, yang terdiri dari lantai, tiap dan atap. Namun, secara spiritual, masjid adalah poros nadi umat yang sangat fundamental. 

Dalam zaman Rasulullah, sahabat dan sampai saat ini masjid selain menjadi media agar sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Allah. Masjid juga menjadi perekat antar sesama umat.

Dalam Hadist Ibnu Majah, “Barang siapa yang mengeluarkan kotoran dari masjid maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga,”.

Zaman memang sudah berubah dan modern, sehingga masjid-masjid membutuhkan pengurusnya. Namun, membersihkan masjid tentu saja bukan monopoli mereka. Selama mempunyai niat yang mantap, siapa pun punya peluang yang sama untuk mempersiapkan bangunan di surga, yakni dengan membersihkan masjid.

"Tapi ya sudalah, tak penting itu, semuanya kembali kepada Allah. Yang putih akan tetap menjadi putih dan yang hitam tetaplah menjadi hitam," ucapnya.

Kembali saat ia sedang sibuk di kamarnya, suara panggilan telepon berbunyi.

"Eh abang, udah di mana, jadi ke rumah. Kok lama kali datangnya," tanya Sari.

Ia belakangan hari ini, Rizky sedang PDKT dengan Sari anak wak silam yang tinggal di daun salam. Satu pelajaran, kita bukan lah Tuhan dan jangan menjudge dan jangan pernah sok paling pintar. 
Sarah bukan Satria

On 11/06/2016 with No comments

twin
Hari pertama di tahun ajaran baru, membuatku tak gugup sedikitpun seperti Taruna yang lainnya. Seolah aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Bersikap sangat tenang seperti tak ada kejadian. Tak seperti lainnya yang mimik wajahnya cukup tegang untuk menjalani perploncoan yang menjadi hal WAJIB setiap tahunnya. Aku pikir tak akan ada lagi kegiatan bodoh seperti ini, setelah kejadian beberapa tahun lalu dimana salah satu angkatan darat tewas karena senior yang terlalu berlebihan memberikan masa orientasi pada para junior. Seperti ajang pembalasan dendam setiap tahunnya. Selalu begitu. Tak pernah berubah. Konyol, pikirku.

Disudut pintu masuk yang berdiri tegak pepohonan rindang yang kelihatan sudah cukup lama tumbuh. Seorang ibu paruh baya seperti ibuku memerhatikan sambil mengecek lagi apa yang kurang untuk kebutuhan anaknya. Padahal anaknya sudah cukup dewasa, sebayaku. Tetapi tingkah laku ibunya memperlakukan anaknya seperti yang hendak masuk TK pertama kalinya, sangat khawatir, takut, ragu, terlihat jelas diraut wajahnya. Padahal anaknya terlihat cukup malu atas perlakuan ibu itu kepadanya. Berulang kali ia mencoba memberitahukan ibunya untuk berhenti melakukan perbuatan berlebihannya karena sang anak yang sudah cukup malu. Dan akupun hanya tertawa ringan sambil menggelengkan kepala.

Aku, pelajar kelas 10, angkatan pertama di sekolah Akademi Maritim, permintaan ayahku tentunya, agar aku dapat meneruskan pekerjaannya sebagai kapten disebuah kapal pesiar yang cukup terkenal. Bukan Titanic tentunya. Dimana teman-teman SMPku yang kebanyakan dari mereka melanjutkan ke jenjang Sekolah Teknik Menengah, namun aku malah terperangkap disini, atas keinginan ayahku.

Ayahku. Selalu memaksakan kehendaknya yang hampir semuanya tak aku inginkan. Dari kecil aku sudah dididik layaknya prajurit siap tempur. Kedisiplinan yang diberikan ayah menjadikanku anak yang benar-benar mengikuti lurusnya jalan tanpa bisa berbelok ataupun berbalik. Sampai teman-teman memanggilku dengan sebutan Si Robot. Ya, itulah aku, sangkin terlalu kakunya, sehingga panggilan itu tak salah dialamatkan padaku. Namun aku bisa apa? Menjadi anak yang baik, mendengarkan apa yang dikatakan orang tua, tak pernah mengatakan tidak sekalipun aku dipaksa memakan makanan yang tak kusuka. Aku tak bisa memberontak sekalipun hatiku berkata tidak.

Pernah sekali aku mencoba untuk melakukan hal yang ayah tak suka, tetapi hasilnya? Coba kalian bayangkan saja sendiri apa yang dilakukan seorang ayah ketika mendapati anaknya berlaku salah. Aku merokok diam-diam di bangunan tingkat yang tak ditinggali siapapun hingga ayah menemukanku dan memberikan hukuman yang tak bisa kusebutkan karena itu cukup mengerikan buat anak seumuranku pada saat itu. Kurang lebih satu minggu ayah menghukumku, itupun karena bujuk rayu ibuku yang sedih melihat anaknya diperlakukan berlebihan dan tak sesuai umur. Walau akhirnya ayah menghentikannya, tetap saja, ayah tetaplah ayah. Ia tetap saja menghukumku dengan cara yang lain.

Ibuku. Ia adalah malaikatku. Malaikat tak bersayap. Saat berada didekapannya, aku merasa waktu berhenti sejenak. Terasa sebentar tetapi nyaman yang kurasakan sangat luar biasa. Ibu selalu membantuku saat ayah mulai dengan sikap otoriternya. Ibulah yang selalu berkata tidak saat ayah ingin meluncurkan keinginan-keinginannya. Dengan begitu, ayah pun mengurungkan niatnya hanya karena ucapan ibu yang dengan alasan masuk akalnya. Tak banyak yang ibu lakukan karena hampir tak semuanya ayah membatalkannya karena bujuk rayu ibu. Walaupun begitu, ibu sudah cukup luar biasa untukku.

Namaku pun dipanggil, dilapangan sekolah yang cukup luas itu. Dengan banyaknya Taruna baru yang tak kukenal satu orang pun. Dengan berbaris aku hanya mengangkat tangan saat namaku disebutkan, cukup cepat, setelah itu kuturunkan lagi tangan ini. Hanya menunjukkan kepada senior bahwa aku hadir. Lalu setelahnya, Taruna yang lain pun juga satu persatu dipanggil. Entah kenapa saat pemanggilan nama ini, aku justru sangat gugup luar biasa. Hingga jantungku tak berhenti detak cepat sampai sudah ada sekitaran 5/6 Taruna yang dipanggil.
***
Aku berkenalan dengan Jaka, cukup tampan, dengan balutan kulit putihnya yang membuatku sedikit iri. Ia menghampiriku duluan disaat aku terduduk sendiri di halaman belakang sekolah ditemani dengan sebotol minuman yang ternyata tak enak dimulutku. Cukup banyak yang kami obrolkan sepanjang jam olahraga. Ya, kami bolos. Jam olahraga yang sangat membosankan karena hanya teori yang ada, bukannya malah praktek. Aneh! Hingga akhirnya, Jaka menanyakan hal yang tak kuiinginkan, sebenarnya.

“kenapa Satria?” tanyanya.
“apanya?” balasku cepat.
“iya, kenapa Satria, nama kamu..”

9 Mei 1989. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Anak satu-satunya dari Kapten Komodor Suyatmoko dan Inna Fadillah. Lahir dengan berat 3,7 kg dan panjang 4,5cm. Cukup berat untuk kelahiran pertama untuk bayi berjenis kelamin perempuan. Ibuku, sangat bahagia mengetahui bahwa buah cintanya selama ini akhirnya dapat dipeluk dan disayangi dengan segenap hatinya. Setelah 15 tahun menikah akhirnya baru saat ini merasakan yang namanya seorang ibu. Namun, lain halnya dengan ayah.

Beliau menginginkan anak laki-laki. Tampan, gagah, berani, dan memiliki jabatan penting seperti dirinya. Penerus dalam keturunannya. Membanggakan nama baik, keluarga. Tak hanya itu, juga berguna bagi banyak orang, untuk negara tentunya. Tetapi semua itu seakan larut, hilang, lenyap begitu saja. Saat melihatku pertama kali lahir, ayah justru tak menggendong dan mengKomatkanku untuk pertama kalinya, sewajarnya yang dilakukan kepada seorang anak perempuan. Kakeklah yang melakukan ritual itu.

Hingga saat aku akan diberi nama. Ayah menunjukkan sikap yang lain. Ia memberiku nama, tetapi nama lelaki, bukan nama perempuan seharusnya. Satria Suyatmoko. Dan kali ini raut wajah ibu dan keluarga lainnya yang berubah drastis. Jelas. Mereka tak menginginkan itu. Mereka menginginkan nama perempua, Sarah Suyatmoko. Lalu, aku juga bisa apa? Aku masih bayi, tak mengerti apa-apa. Keluargaku? Mereka tak dapat menghentikan perbuatan ayah.
“dulu, ayahku ingin seorang anak laki-laki”, ucapku memulai pembicaraan saat terdiam cukup lama akan pertanyaan Jaka. “namun mau berkata apa? Takdir tak berpihak pada ayahku. Aku terlahir sebagai anak perempuan, namun namaku bukan sewajarnya anak perempuan..” terangku, lirih, hingga membuat Jaka tertegun.

Karena ayahku yang menginginkan seorang anak laki-laki, maka ia memperlakukanku seperti anak laki-laki. Mulai dari ia menamaiku Satria, kedisiplinan yang diajarkannya, cara berpakaianku, dan segalanya hingga menutupi identitasku sebagai seorang wanita tulen seutuhnya.

Apalagi rambutku. Ayah memangkas sendiri rambutku hingga pendek gonjes, ia mengatakannya. Tak boleh sedikitpun panjang seperti anak perempuan. Jika sudah mulai sedikit panjang, ayahpun memotonganya menjadi pendek lagi. Apa yang kulakukan? Aku diam saja.

Semuanya kutelan. Pahitnya kehidupan dan takdir yang sudah tertulis digaris tanganku, harus kujalani sebagaimana mestinya. Sekuat apapun aku berusaha untuk menolaknya, menjauhinya, namun tetap saja tak bisa. Takdir itu sudah melekat tak mau lepas. Mungkin inilah keinginan ayah. Aku seorang perempuan namun fisiknya anak laki-laki. Namaku Sarah, tapi mereka memanggilku Satria. Hanya ibukulah, yang memangilku Sarah. Sekali lagi, aku bisa apa? Marah kepada Tuhan karena ia telah memberikanku takdir seperti ini?

“terserah kamu mau panggil aku dengan nama yang mana. Mau Satria, ataupun Sarah. Bebas”. Tambahku lagi menutup pembicaraanku dengan Jaka sambil mulai berlalu.

“tapi asal kamu tau,” berbalik badan dan mendatangi Jaka lagi yang masih tertegun akan kisahku. “aku Sarah, bukan Satria..” (TR)
Sarah Bukan Satria

On 9/17/2016 with No comments

Hari pertama di tahun ajaran baru, membuatku tak gugup sedikitpun seperti Taruna yang lainnya. Seolah aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Bersikap sangat tenang seperti tak ada kejadian. Tak seperti lainnya yang mimik wajahnya cukup tegang untuk menjalani perploncoan yang menjadi hal WAJIB setiap tahunnya. Aku pikir tak akan ada lagi kegiatan bodoh seperti ini, setelah kejadian beberapa tahun lalu dimana salah satu angkatan darat tewas karena senior yang terlalu berlebihan memberikan masa orientasi pada para junior. Seperti ajang pembalasan dendam setiap tahunnya. Selalu begitu. Tak pernah berubah. Konyol, pikirku.

twin
twin
Disudut pintu masuk yang berdiri tegak pepohonan rindang yang kelihatan sudah cukup lama tumbuh. Seorang ibu paruh baya seperti ibuku memerhatikan sambil mengecek lagi apa yang kurang untuk kebutuhan anaknya. Padahal anaknya sudah cukup dewasa, sebayaku. Tetapi tingkah laku ibunya memperlakukan anaknya seperti yang hendak masuk TK pertama kalinya, sangat khawatir, takut, ragu, terlihat jelas diraut wajahnya. Padahal anaknya terlihat cukup malu atas perlakuan ibu itu kepadanya. Berulang kali ia mencoba memberitahukan ibunya untuk berhenti melakukan perbuatan berlebihannya karena sang anak yang sudah cukup malu. Dan akupun hanya tertawa ringan sambil menggelengkan kepala.

Aku, pelajar kelas 10, angkatan pertama di sekolah Akademi Maritim, permintaan ayahku tentunya, agar aku dapat meneruskan pekerjaannya sebagai kapten disebuah kapal pesiar yang cukup terkenal. Bukan Titanic tentunya. Dimana teman-teman SMPku yang kebanyakan dari mereka melanjutkan ke jenjang Sekolah Teknik Menengah, namun aku malah terperangkap disini, atas keinginan ayahku.

Ayahku. Selalu memaksakan kehendaknya yang hampir semuanya tak aku inginkan. Dari kecil aku sudah dididik layaknya prajurit siap tempur. Kedisiplinan yang diberikan ayah menjadikanku anak yang benar-benar mengikuti lurusnya jalan tanpa bisa berbelok ataupun berbalik. Sampai teman-teman memanggilku dengan sebutan Si Robot. Ya, itulah aku, sangkin terlalu kakunya, sehingga panggilan itu tak salah dialamatkan padaku. Namun aku bisa apa? Menjadi anak yang baik, mendengarkan apa yang dikatakan orang tua, tak pernah mengatakan tidak sekalipun aku dipaksa memakan makanan yang tak kusuka. Aku tak bisa memberontak sekalipun hatiku berkata tidak.

Pernah sekali aku mencoba untuk melakukan hal yang ayah tak suka, tetapi hasilnya? Coba kalian bayangkan saja sendiri apa yang dilakukan seorang ayah ketika mendapati anaknya berlaku salah. Aku merokok diam-diam di bangunan tingkat yang tak ditinggali siapapun hingga ayah menemukanku dan memberikan hukuman yang tak bisa kusebutkan karena itu cukup mengerikan buat anak seumuranku pada saat itu. Kurang lebih satu minggu ayah menghukumku, itupun karena bujuk rayu ibuku yang sedih melihat anaknya diperlakukan berlebihan dan tak sesuai umur. Walau akhirnya ayah menghentikannya, tetap saja, ayah tetaplah ayah. Ia tetap saja menghukumku dengan cara yang lain.

Ibuku. Ia adalah malaikatku. Malaikat tak bersayap. Saat berada didekapannya, aku merasa waktu berhenti sejenak. Terasa sebentar tetapi nyaman yang kurasakan sangat luar biasa. Ibu selalu membantuku saat ayah mulai dengan sikap otoriternya. Ibulah yang selalu berkata tidak saat ayah ingin meluncurkan keinginan-keinginannya. Dengan begitu, ayah pun mengurungkan niatnya hanya karena ucapan ibu yang dengan alasan masuk akalnya. Tak banyak yang ibu lakukan karena hampir tak semuanya ayah membatalkannya karena bujuk rayu ibu. Walaupun begitu, ibu sudah cukup luar biasa untukku.

Namaku pun dipanggil, dilapangan sekolah yang cukup luas itu. Dengan banyaknya Taruna baru yang tak kukenal satu orang pun. Dengan berbaris aku hanya mengangkat tangan saat namaku disebutkan, cukup cepat, setelah itu kuturunkan lagi tangan ini. Hanya menunjukkan kepada senior bahwa aku hadir. Lalu setelahnya, Taruna yang lain pun juga satu persatu dipanggil. Entah kenapa saat pemanggilan nama ini, aku justru sangat gugup luar biasa. Hingga jantungku tak berhenti detak cepat sampai sudah ada sekitaran 5/6 Taruna yang dipanggil.

***
Aku berkenalan dengan Jaka, cukup tampan, dengan balutan kulit putihnya yang membuatku sedikit iri. Ia menghampiriku duluan disaat aku terduduk sendiri di halaman belakang sekolah ditemani dengan sebotol minuman yang ternyata tak enak dimulutku. Cukup banyak yang kami obrolkan sepanjang jam olahraga. Ya, kami bolos. Jam olahraga yang sangat membosankan karena hanya teori yang ada, bukannya malah praktek. Aneh! Hingga akhirnya, Jaka menanyakan hal yang tak kuiinginkan, sebenarnya.

“kenapa Satria?” tanyanya.
“apanya?” balasku cepat.
“iya, kenapa Satria, nama kamu..”

9 Mei 1989. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Anak satu-satunya dari Kapten Komodor Suyatmoko dan Inna Fadillah. Lahir dengan berat 3,7 kg dan panjang 4,5cm. Cukup berat untuk kelahiran pertama untuk bayi berjenis kelamin perempuan. Ibuku, sangat bahagia mengetahui bahwa buah cintanya selama ini akhirnya dapat dipeluk dan disayangi dengan segenap hatinya. Setelah 15 tahun menikah akhirnya baru saat ini merasakan yang namanya seorang ibu. Namun, lain halnya dengan ayah.

Beliau menginginkan anak laki-laki. Tampan, gagah, berani, dan memiliki jabatan penting seperti dirinya. Penerus dalam keturunannya. Membanggakan nama baik, keluarga. Tak hanya itu, juga berguna bagi banyak orang, untuk negara tentunya. Tetapi semua itu seakan larut, hilang, lenyap begitu saja. Saat melihatku pertama kali lahir, ayah justru tak menggendong dan mengKomatkanku untuk pertama kalinya, sewajarnya yang dilakukan kepada seorang anak perempuan. Kakeklah yang melakukan ritual itu.

Hingga saat aku akan diberi nama. Ayah menunjukkan sikap yang lain. Ia memberiku nama, tetapi nama lelaki, bukan nama perempuan seharusnya. Satria Suyatmoko. Dan kali ini raut wajah ibu dan keluarga lainnya yang berubah drastis. Jelas. Mereka tak menginginkan itu. Mereka menginginkan nama perempua, Sarah Suyatmoko. Lalu, aku juga bisa apa? Aku masih bayi, tak mengerti apa-apa. Keluargaku? Mereka tak dapat menghentikan perbuatan ayah.
“dulu, ayahku ingin seorang anak laki-laki”, ucapku memulai pembicaraan saat terdiam cukup lama akan pertanyaan Jaka. “namun mau berkata apa? Takdir tak berpihak pada ayahku. Aku terlahir sebagai anak perempuan, namun namaku bukan sewajarnya anak perempuan..” terangku, lirih, hingga membuat Jaka tertegun.

Karena ayahku yang menginginkan seorang anak laki-laki, maka ia memperlakukanku seperti anak laki-laki. Mulai dari ia menamaiku Satria, kedisiplinan yang diajarkannya, cara berpakaianku, dan segalanya hingga menutupi identitasku sebagai seorang wanita tulen seutuhnya.

Apalagi rambutku. Ayah memangkas sendiri rambutku hingga pendek gonjes, ia mengatakannya. Tak boleh sedikitpun panjang seperti anak perempuan. Jika sudah mulai sedikit panjang, ayahpun memotonganya menjadi pendek lagi. Apa yang kulakukan? Aku diam saja.

Semuanya kutelan. Pahitnya kehidupan dan takdir yang sudah tertulis digaris tanganku, harus kujalani sebagaimana mestinya. Sekuat apapun aku berusaha untuk menolaknya, menjauhinya, namun tetap saja tak bisa. Takdir itu sudah melekat tak mau lepas. Mungkin inilah keinginan ayah. Aku seorang perempuan namun fisiknya anak laki-laki. Namaku Sarah, tapi mereka memanggilku Satria. Hanya ibukulah, yang memangilku Sarah. Sekali lagi, aku bisa apa? Marah kepada Tuhan karena ia telah memberikanku takdir seperti ini?

“terserah kamu mau panggil aku dengan nama yang mana. Mau Satria, ataupun Sarah. Bebas”. Tambahku lagi menutup pembicaraanku dengan Jaka sambil mulai berlalu.

“tapi asal kamu tau,” berbalik badan dan mendatangi Jaka lagi yang masih tertegun akan kisahku. “aku Sarah, bukan Satria..” (TR)



Mawar itu Masih 'ku Simpan

On 9/03/2016 with No comments

mawar hitam
Mawar Hitam
            Karena pelangi itu takkan muncul lagi tanpa hujan yang lebih dulu datang...
              
Waktu itu, aku masih ingat dengan jelas di cafe yang biasa aku datangi. Dengan berteman sebuah buku yang cukup tebal hingga mungkin butuh waktu satu atau dua minggu menyelesaikannya. Lebih tepatnya novel cinta. Dengan begitu banyaknya judul disetiap penerbitannya.

Segelas cappucino dingin yang sudah hampir habis setia menemaniku setiap sore menjelang malam. Duduk disudut cafe yang menghadap langsung bagian bar di cafe yang berkonsep indoor itu, dan lantas saja karena sudah cukup seringnya aku mengunjungi cafe itu, seolah kursi tersebut selalu kosong dan menunggu untuk aku duduki.


Ketika aku ingin menghabiskan minuman dingin itu aku menyadari ternyata novel yang seharusnya sudah selesai aku baca, ternyata masih tersisa dua part lagi. Padahal novel itu harus segera aku kembalikan pada Rhia, sahabatku, dan dimana juga hari itu aku sudah harus mengembalikannya.

Tanpa berfikir panjang lalu aku memesan lagi segelas cappucino dingin kepada salah satu waiter, yang kelihatannya saat itu sangat sibuk sekali menghandle pelanggan lain yang juga ingin memesan.
               
“permisi, mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Aku mendengar suara yang aku sendiri kaget bahwa pemilik suara tersebut adalah salah satu bartender yang ada di cafe tersebut. Karena sudah terlalu sering aku menghabiskan waktu ditempat itu, sampai pekerja-pekerja cafe tersebut mengenalku dengan sangat baik. Karena ia melihatku kebingungan pada siapa harus memesan minuman, akhirnya ia menghampiriku.
                “eh-mmm mas, kaget saya, saya pikir siapa, ternyata mas...”

“ Ini mas saya mau pesan satu lagi cappucino dinginnya ya”. Bartender itu senyum dengan sangat manis melihat kekagetanku karena kehadirannya.
               
                “pesan lagi, mbak? Biasa juga sekali pesan aja”, balasnya.
               
“iya nih mas, seharusnya memang Cuma sekali aja. Tapi karena ini belum selesai dan harus segera dikembalikan, jadi saya pesan lagi deh mas”, jawabku dengan menunjuk kearah novel yang kumaksud. Bartender yang berdiri tepat di samping aku duduk kini mulai mengerti kenapa aku memesan lagi segelas minuman itu.
               
“ohh begitu. Ya sudah saya buatkan sebentar ya”. Sambil mulai berlalu dengan menyisakan senyumannya yang membuatku salah tingkah, ia berkata lagi sambil memperkenalkan dirinya dan mengarahkan tangan kanannya untuk berjabat tangan denganku, “oh ya, saya Arman. Jika ada butuh apa-apa, bilang sama saya aja ya”. Dan lagi-lagi Arman memberikan senyuman manisnya kepadaku yang semakin membuatku terpaku setelah bersalaman padanya hingga ia pun berlalu untuk bergegas membuatkan pesananku.
               
                Hingga akhirnya dengan sekali sedotan terakhir minuman yang hampir tak lagi dingin itu, begitu juga novel itupun selesai aku baca. Sudah tujuh hari aku menyelesaikan membacanya, di tempat ini, dengan minuman yang selalu sama aku pesan.
“mbak belum pulang? Arman menghampiriku masih duduk di sudut ruangan dengan ia yang tak lagi mengenakan seragam kerjanya.
               
“ini baru siap-siap mau pulang. Baru selesai dibaca”. Sambil berdiri dan berbarengan dengan Arman keluar dari cafe itu yang ternyata ia juga akan pulang. “panggil Sinta aja, berasa tua akunya kamu panggil mbak”. Tawa ringanku hingga memecah senyum Arman dengan pernyataanku yang juga sedikit lucu menurutnya.
               
“kamu sering juga ya ke cafe ini, bahkan aku juga sering buatin minuman yang selalu sama kamu pesan. Makanya tadi aku lihat kamu kebingungan karena gak ada satu waiter pun yang menghampiri kamu”, ucap Arman yang memulai pembicaraan menjadi lebih santai di samping pintu masuk cafe itu. “gak bagus buat kesehatan menurut aku kalau kamu terlalu sering minum itu. Lebih bagus kamu minum air putih atau jus, lebih sehat lagi”.
               
Arman membuatku terpaku lagi, namun aku langsung membalasnya dengan memberikan sedikit guyonan, “jus ya? Hmm... enak juga, apalagi kalau kamu yang buat ya, pasti aku bakalan pesan sampai tiga kali,”  balasku yang kini membuat Arman tertawa hingga matanya sedikit menyipit akibat guyonan yang kubuat.
               
“terima kasih hari ini ya, Arman. Senang kenal sama kamu. Aku harus pulang sekarang”, Tutupku malam itu dan berlalu dari Arman yang masih berdiri disamping cafe sampai bayanganku yang tak terlihat lagi. Arman seperti pelangi. Yang dimana aku tak berharap muncul, namun kehadirannya membuatku jadi berwarna.

                Namun begitupun pelangi muncul, ia tak pernah lama mewarnai langit biru...

Waktu semakin cepat berlalu. Tak terasa perjumpaanku dengan Arman waktu itu sampai detik ini sudah sangat banyak menyisakan hal-hal menarik dan tentunya indah. Arman sangat istimewa. Aku belum pernah menjumpai sosok seperti dia. Hampir setiap hari kami selalu berkomunikasi. Karena pertemuan waktu itu di cafe,  kami menjadi lebih sering bercengkrama dan tentunya kehadiranku di tempat itu menjadi lebih sering lagi.

 Bahkan aku seperti sedang bekerja ditempat itu. Mulai dari bukanya cafe itu hingga Arman selesai bekerja, aku selalu hadir. Kini tempat yang biasa aku tempati seakan cemburu karena tak pernah lagi aku duduki. Aku jadi lebih sering duduk di kursi yang bisa melihat langsung Arman meracik minuman.

Apalagi Arman suka sekali membuatkan aku minuman yang menurutku aneh karena hasil eksperimennya sendiri, namun rasanya tidak buruk. Selesai Arman bekerja, kami sering duduk walau hanya sekedar bercerita. Atau terkadang kami juga menonton film di bioskop. Dan setelahnya bisa saja makan. Selebihnya, kami juga sering menghabiskan sisa-sisa waktu yang ada sambil teleponan. Entah apa yang kami bicarakan tapi saat-saat itu sangat indah. Arman bukan hanya sekedar pelangi yang hanya sekejap muncul mewarnai langit biru, Arman lebih dari itu.
               
Hingga hari ini, aku mengatakan cintaku pada Arman. Dan tebak saja, Arman terkejut mendengar pernyataanku.
               
“apa yang kamu lihat dari aku? Sampai kamu menyatakan hal seperti itu dimana kita baru beberapa bulan saling kenal”, ucap Arman yang malah bertanya balik padaku dan sangat membuatku terpaku.

Aku menjelaskannya. Semuanya. Mengapa bisa secepat itu aku jatuh cinta padanya dimana baru beberapa bulan kami saling kenal. Namun aku merasa kami sudah sangat cocok. Ungkapan yang kuutarakan padanya sedikit membuat wajah Arman berubah drastis. Entah apa yang salah saat aku mengungkapkannya. Tapi Arman sudah cukup membuatku menyesali apa yang kuutarakan padanya.

Aku memilih diam dan meninggalkan dirinya yang saat itu masih belum mengatakan apapun. Meninggalkan Arman yang masih duduk di tempat ia bekerja malam hari setelah cafe itu mulai bersih-bersih karena akan tutup.

                Malam ini dingin sekali. Hujan yang turun dari sore tadi tak kunjung berhenti sampai jam 9 malam ini. Membuatku hanya bisa membungkus diri dibalik selimut tebal yang jarang kupakai setiap tidur malam. Namun karena cuaca yang tak kusuka ini, kini aku harus memakainya.

Memandang kearah luar yang menghadap ke langit-langit yang tak berbintang malam ini. Jendela yang telah basah karena hujan terus membasahinya. Sesekali aku juga melirik kearah telepon genggamku, yang juga sedari kemarin tak ada berbunyi panggilan masuk, sms, bahkan pesan blackberry messenger dari Arman.

Kuhitung sudah lebih 24 jam Arman tak ada walau hanya sekedar menanyakan apa yang sedang kulakukan. Kejadian 2 malam lalu cukup sulit buatku dan paling sulit buat Arman. Terakhir aku meninggalkan Arman dengan raut muka yang datar tak merespon sedikitpun pernyataan sukaku padanya.

 Apa yang salah dengan ini? Aku hanya berbuat hal yang benar aku rasakan, apakah itu salah?
               
“Sinta.. Kamu lagi apa?”
               
Pesan dari blackberry messenger pun berbunyi dan sontak membuatku buru-buru membacanya dan Arman menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Tapi bukannya malah membalas, aku malah menghubungi Arman.
               
“maaf aku udah buat kamu kebingungan. Tapi aku lagi pengen sendiri aja, sedang tidak ingin diganggu. Sekali lagi aku minta maaf..”
               

Maaf yang kudengar dari Arman sedikit tak bisa kuterima dengan akal sehatku. Tapi hanya kutelan saja permintaan maafnya dan mendengarkan kembali yang ingin dikatakannya lagi.
               
“besok malam aku tunggu di cafe ya. Ada sesuatu yang mau aku kasi ke kamu..”

                Dan dilain kesempatan, semoga hujan turun agar dapat melihat pelangi lagi..
               
Aku menghela napas panjang sekali pagi ini. Melepaskan segala yang tengah aku rasakan. Tak cukup lama tadi malam aku berkomunikasi dengan Arman. Tak seperti biasanya yang sampai larut malam. Baik aku ataupun Arman, tak membuat perbincangan itu menjadi panjang. Sehingga tak butuh waktu lama untuk mengobrol. Sangat tak bersemangat, ya itulah yang kurasakan.

Namun permintaan untuk menemuinya nanti malam di cafe tempat ia bekerja menyisakan pertanyaan tak enak dan kecurigaan yang aku harap tak akan pernah terjadi. Arman, kau membuatku gila!
               
Sedari siang aku sudah duduk manis ditempat biasa kala aku membaca buku di cafe ini, yang belakangan sangat jarang aku berada di spot favoritku ini. Namun yang berbeda kali ini adalah hanya orange juice yang kupesan, bukannya cappuccino dingin. Novel cinta yang biasa aku baca, kini majalah tentang kesehatan yang setia menemani siangku. Dan entah kenapa semua kebiasaanku yang dulu telah berubah drastis dan jika teman-temanku tau yang kulakukan, mereka akan mengatakan ‘not you’. Tapi aku sangat menikmatinya.

Dengan musik dicafe itu salah satu band asal jepang kesukaan Arman One Ok Rock, yang pertama aku dengar sama sekali tak menyukainya karena aliran lagu seperti itu sangat tak kusuka. Namun lama kelamaan karena Arman selalu minta lagu itu diputarkan saat jam kerjanya, aku jadi terbiasa mendengarkannya. Dan tanpa sadar tubuhku pun seirama bergerak mengikuti alunan musiknya.
               
Tak terasa sudah menjelang sore aku berada disini dan perutku sudah melolong minta diisi. Dan aku minta waiter untuk membuatkan roti panggang coklat keju yang sangat lezat di cafe ini. Tapi tiba-tiba aku teringat akan perkataan Arman beberapa waktu lalu saat ia mengajakku untuk makan siang.
               
“aku masih kenyang, Arman. Kamu jangan paksa aku dong. Lagian kamu ini merusak dietku aja..” tukasku waktu itu dengan wajah sebal karena Arman memaksaku untuk makan siang yang padahal sebenarnya dari pagi sampai habis jam makan siang, aku belum ada makan apa-apa, dan Arman tau itu.

Seolah kami telah tinggal satu rumah. Karena aku tak pernah bisa menyembunyikan apa yang kukerjakan, jadi aku memberitahukannya sampai diet yang kulakukan dimana memang dari pagi hanya minum segelas air putih dan roti tawar yang hanya 2 lembar. Dan lalu Arman menunjukkan wajah tak sukanya yang jarang sekali ia tunjukkan padaku karena ia sangat tak suka aku melakukan diet gila itu, “aku gag suka kamu ngelakuin diet itu.

Buat apa?? Yang ada kamu malah sakit dan gag sehat. Aku terima kamu apa adanya kok, mau kamu kurus atau lebih dari sekarang..” Arman sangat kesal hingga raut wajahnya melukiskan ketidaksukaannya atas perbuatanku.

Tapi Arman tetaplah Arman. Mau seperti apapun marahnya dia terhadapku, namun ketahuilah, Arman tak sesungguhnya benar-benar marah. Akhirnya ia memesankanku seporsi nasi merah lengkap dengan sayuran dan orak-arik telur dan condiment lainnya cocok untuk yang melakukan diet sepertiku dan tentunya sehat. Dan seketika senyum merekah diwajah Arman dan tak ketinggalan gigi kelincinya yang membuatku semakin gemas. Karena teringat itu, akhirnya aku mengganti pesanan yang sebelumnya dengan makanan lain yang mengandung karbohidrat.
               
Sudah hampir pukul 8 malam, tetapi batang hidung Arman belum juga kelihatan. Padahal seharusnya jadwal ia bekerja. Aku bertanya dengan pekerja disini, tetapi mereka hanya menggelengkan kepala sambil mengatakan “tidak tau”. Aneh. Kemana Arman??

                “mbak Sinta,” seorang bartender menghampiriku sambil membawa sekotak besar berukuran 30x24 cm berwarna biru muda polos. “mohon diterima, mbak. Dari seseorang yang mbak kenal..”Terheran-heran tapi aku tetap menerima sekotak besar yang entah apa isi didalamnya. (TR)



To be continue..